Tema pengembangan kurikulum 2013 adalah dapat menghasilkan insan
Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui
penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan
pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi. Diakui dalam perkembangan
kehidupan dan ilmu pengetahuan abad 21, kini memang telah terjadi
pergeseran baik ciri maupun model pembelajaran. Inilah yang diantisipasi
pada kurikulum 2013. Skema 1 menunjukkan pergeseran paradigma belajar
abad 21yang berdasarkan ciri abad 21 dan model pembelajaran yang harus
dilakukan.

Menu
- Beranda
- Profil
- Pimpinan
- Struktur Organisasi
- Kepala Sekolah/a>
- Wakasek Kurikulum
- Wakasek Kesiswaan
- Wakasek Sarana Prasarana
- Wakasek HUmas
- Kepala UPTD
- Kepala Laboratorium
- Kepala Laboratorium Biologi
- Kepala Laboratorium Kimia
- Kepala Laboratorium Fisika
- BP BK
- Guru
- Siswa
- Alumni
- Fitur
- Link
- PSB
- Info
- Download
- Budaya Bima
- Explore Bima
Selasa, 11 Desember 2012
Uji Publik Kurikulum 2013: Penyederhanaan, Tematik-Integratif
Posted Mon, 12/03/2012 - 15:36 by sidiknas
Pengembangan Kurikulum 2013 dilakukan dalam empat tahap. Pertama,
penyusunan kurikulum di lingkungan internal Kemdikbud dengan melibatkan
sejumlah pakar dari berbagai disiplin ilmu dan praktisi pendidikan.
Kedua, pemaparan desain Kurikulum 2013 di depan Wakil Presiden selaku
Ketua Komite Pendidikan yang telah dilaksanakan pada 13 November 2012
serta di depan Komisi X DPR RI pada 22 November 2012. Ketiga,
pelaksanaan uji publik guna mendapatkan tanggapan dari berbagai elemen
masyarakat. Salah satu cara yang ditempuh selain melalui saluran daring
(on-line) pada laman http://kurikulum2013.kemdikbud.go.id , juga melalui media massa cetak. Tahap keempat, dilakukan penyempurnaan untuk selanjutnya ditetapkan menjadi Kurikulum 2013.
Inti dari Kurikulum 2013, adalah ada pada upaya penyederhanaan, dan tematik-integratif. Kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi masa depan. Karena itu kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa depan.
Inti dari Kurikulum 2013, adalah ada pada upaya penyederhanaan, dan tematik-integratif. Kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi masa depan. Karena itu kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa depan.
Wawancara dengan Mendikbud Terkait Kurikulum 2013 (Bagian 1)
Posted Thu, 12/06/2012 - 11:10 by sidiknas
Tempat : Ruang kerja Mendikbud, Gedung A Kompleks Kemdikbud Senayan Jakarta
Hari : Rabu, 5 Desember 2012
Hari : Rabu, 5 Desember 2012
Pertanyaan : Bagaimana pengembangan Kurikulum 2013 ini?
Mendikbud : Pengembangan kurikulum ini sudah ada
dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014.
Artinya apa? Kalau ada suatu dokumen RPJMN 2010-2014, ini artinya
disusun tahun 2009, berarti 2009 sudah dievaluasi, 2010-2014 harus ada
penataan kurikulum. Ini perintah RPJMN.
Dari sisi arah, sangat-sangat jelas. Arahnya adalah peningkatan kompetensi yang seimbang antara sikap (attitude), ketrampilan (skill), dan pengetahuan (knowledge).
Tiga ini harus dimiliki. Yang dirisaukan orang bahwa anak-anak kita
hanya memiliki kognitif saja, ini yang kita jawab. Kompetensi nantinya
bukan urusan kognitif saja namun ada sikap, dan ketrampilan. Kompetensi
ini didukung 4 pilar yaitu : produktif, kreatif, inovatif, dan afektif.
Meskipun inovatif ini gabungan sifat produktif dan kreatif, namun kita
taruh berdiri sendiri saja. Kalau seseorang produktif dan kreatif, tidak
serta merta menjadi inovatif, tapi inovatif ini hanya bisa dibentuk
kalau ada dua hal tersebut. Kalau ada beras ada ikan belum tentu
otomatis bisa dimakan,tapi kalau tidak ada beras tidak ada ikan otomatis
tidak ada yang bisa dimakan. Syaratnya ada beras, ada ikan.
Wawancara dengan Mendikbud Terkait Kurikulum 2013 (Bagian 2)
Posted Thu, 12/06/2012 - 13:22 by sidiknas
Pertanyaan : Bagaimana tentang uji publik kurikulum 2013 ini?
Mendikbud : Ini sesuatu yang baru, uji publik
kurikulum. Sebelumnya tidak pernah ada uji publik. Jadi ini kita lempar
ke publik. Tujuannya apa? pertama supaya publik tahu akan ada kurikulum
baru, kedua publik dapat berpartisipasi sehingga ada rasa memiliki atau self-belonging. Dalam partisipasi ini siapa saja boleh memberi pandangan. Oleh karena itu paling gampang kita masukkan dalam web kita http://kurikulum2013.kemdikbud.go.id.
Uji publik jalan terus ini. Secara umum tidak ada itu yang menolak.
Rata-rata menyambut baik. Tujuan uji publik itu kan untuk penyempurnaan.
Makanya bahannya kita upload, supaya publik mempelajari terlebih dahulu. Kalau ada yang komentar mata pelajaran kita kurang fokus, coba pelajari dahulu.
Waktu uji publik yang 3 minggu ini cukup. Tentang memilah masukan,
itu teknis sekali. Akan dikelompokkan tentang kurikulum dan tentang
implementasi kurikulum. Tentang kurikulum itu sendiri kan terdiri dari
kompetensi lulusan, isi, proses, dan penilaian. Kira-kira dari 4 itu
mana yang perlu ditambahkan. Dari masukan yang banyak tersebut, oleh tim
pakar akan di-review. Tentu saja tidak semua masukan kita terima, kalau semua masukan kita terima itu berarti nggak mikir.
Wawancara dengan Mendikbud Terkait Kurikulum 2013 (Bagian 3)
Posted Mon, 12/10/2012 - 15:20 by sidiknas
Wawancara Mendikbud dengan wartawan PIH Kemdikbud dan Vivanews.com (Rabu 5 Desember 2012)
Kurikulum pendidikan di Indonesia akan drastis diubah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menyusun kurikulum baru untuk tahun 2013 mendatang. Rencana ini rupanya sudah digagas sejak 2010.
Alasan Kementerian: kurikulum pendidikan harus disesuaikan dengan tuntutan zaman. Karena zaman berubah, maka kurikulum harus lebih berbasis pada penguatan penalaran, bukan lagi hafalan semata.
Perubahan ini diputuskan dengan merujuk hasil survei internasional tentang kemampuan siswa Indonesia. Salah satunya adalah survei "Trends in International Math and Science" oleh Global Institute pada tahun 2007.
Menurut survei ini, hanya 5 persen siswa Indonesia yang mampu mengerjakan soal berkategori tinggi yang memerlukan penalaran. Sebagai perbandingan, siswa Korea yang sanggup mengerjakannya mencapai 71 persen. Sebaliknya, 78 persen siswa Indonesia dapat mengerjakan soal berkategori rendah yang hanya memerlukan hafalan. Sementara itu, siswa Korea yang bisa mengerjakan soal semacam itu hanya 10 persen.
Kurikulum pendidikan di Indonesia akan drastis diubah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menyusun kurikulum baru untuk tahun 2013 mendatang. Rencana ini rupanya sudah digagas sejak 2010.
Alasan Kementerian: kurikulum pendidikan harus disesuaikan dengan tuntutan zaman. Karena zaman berubah, maka kurikulum harus lebih berbasis pada penguatan penalaran, bukan lagi hafalan semata.
Perubahan ini diputuskan dengan merujuk hasil survei internasional tentang kemampuan siswa Indonesia. Salah satunya adalah survei "Trends in International Math and Science" oleh Global Institute pada tahun 2007.
Menurut survei ini, hanya 5 persen siswa Indonesia yang mampu mengerjakan soal berkategori tinggi yang memerlukan penalaran. Sebagai perbandingan, siswa Korea yang sanggup mengerjakannya mencapai 71 persen. Sebaliknya, 78 persen siswa Indonesia dapat mengerjakan soal berkategori rendah yang hanya memerlukan hafalan. Sementara itu, siswa Korea yang bisa mengerjakan soal semacam itu hanya 10 persen.
Rabu, 21 November 2012
Dorong Penggunaan TIK, Sekolah Boleh Pakai Dana BOS
Untuk meningkatkan gairah penggunaan Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK), Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi
(Pustekkom) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud)
mengembangkan konten dan infrastruktur bidang pendidikan berbasis TIK.
Pengembangan infrastruktur jaringan akan dilakukan dengan menggunakan
anggaran Jardiknas dan mekanisme lainnya.
Perlu disadari, jika hanya mengandalkan anggaran
Jardiknas tentunya tidak cukup untuk melayani jaringan internet yang
menjangkau seluruh sekolah di penjuru negeri. Untuk itu, pemerintah
merancang sebuah petunjuk teknis (juknis) pemanfaatan dana Bantuan
Operasional Sekolah (BOS) untuk mendorong penggunaan TIK.
Dijelaskan oleh Kepala Pustekkom Ari Santoso, saat
ini dengan anggaran yang dialokasikan dalam Jardiknas hanya mampu
menjangkau dan melayani jaringan internet di 40 ribu sekolah. Sementara
jumlah sekolah yang ada di Indonesia sebanyak 240 ribu sekolah. Dengan
keterbatasan itu dirancang sebuah mekanisme agar sekolah-sekolah yang
sudah “mampu” didorong untuk membiayai langganan internetnya sendiri
dengan memanfaatkan dana BOS secara legal.
Langganan:
Komentar (Atom)
